Jun 16, 2011

Wreck Dive Adventure Tulamben

hampir 70 tahun yang lalu, sebuah kapal perang cargo USS tertatih - tatih menuju pelabuhan Singaraja yang akhirnya tenggelam di perairan Tulamben akibat diserang kapal selam Jepang, kini bangkai kapal tersebut menjadi salah satu spot penyelaman terbaik di Bali.
Diving di Bali serunya emang ga ada abisnya. Awalnya sie ga ada tuh rencananya mo diving di Bali, mana duid lagi cekak pula.. tapi demi  menemani seorang teman yang sedang dilanda badai asmara (caahh kek lagu dangdut.. joget apa kitah..) jadi deh dengan sangat terpaksa ngikut dengan perjanjian doi mo bayarin tiket pesawatnya.. yah lumayan lah mana lagi harpitnas gituh pasti tiket pesawat mahal donk. 

Akhirnya setelah tiket pesawat ditangan dengan mencari tiket murah mengoprek-oprek setiap website airline berangkat lah tiga pemuda harapan bangsa ini berlibur ke pulau dewata. Cuma dengan modal baju yang cuma bawa beberapa helai, peta yg dibeli pas mo brangkat, dan uang receh sisa hasil nguli dikantor.  Sampe di Bali, kebiasaan buruk mulai dilakukan, celingak celinguk macem turis mancenegara yg blom tau Bali, trus lanjut ke Kuta nyari hotel murah, emang dasar ga ada planning, baru nyadar klo skrg lg liburan musim panas which is hampir semua bule2 ke Bali buat ngitemin badan.  Jadilah kita tawaf disekitaran kuta-legian buat nyari hotel murah meriah.

Besoknya gw langsung telpon temen gw Sammy yg juga dive instructor, dengan harga pertemanan kita pun langsung brangkat ke dive site di Tulamben. Perjalanan dengan menggunakan mobil ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dari Legian. Dengan melewati jalan arteri timur Bali perjalanan ditempuh melewati beberapa bukit sebelum sampai ke Tulamben, pemandangan indah menyambut kita saat hampir tiba di Tulamben, topografi daerah Tulamben yang gersang dan berbatu memberikan kesan tersendiri terhadap daerah ini, sangat unik dan berbeda dari daerah-daerah Bali lainnya yang kebanyakan hijau dan subur.


Sesampainya di Tulamben mata langsung dimanjakan dengan pantai yang juga berbeda dibandingkan pantai lain di Bali, keunikan ini terlihat dari bibir pantainya yang bukan pasir melainkan bebatuan sisa dari lelehan gunung Agung gunung tertinggi di Bali, membuat suara riakan ombak selalu diiringi oleh retakan bunyi batu yang beradu. Salah satu yang menjadi keunikan lain dari dive site ini adalah dengan adanya onggokan bangkai kapal USS Liberty yang digunakan sebagai moda transportasi pasukan amerika saat perang dunia kedua. 

Kapal ini hancur ditorpedo oleh kapal selam Jepang pada bulan Januari 1942 disekitar selat Lombok saat akan berlayar dari Australia menuju Philipina. Untuk menyelamatkan barang yang dibawa, kapal mencoba terus berlayar ke pelabuhan singaraja akan tetapi air yang terus masuk menyebabkan akhirnya kapal tenggelam didaerah Tulamben. Ship wreck spot yang hanya berjarak 30 meter dari bibir pantai membuat dive site ini sangat lah terkenal dibali sehingga tidak memerlukan boat untuk sampai ke dive spot tersebut, cukup berenang dari bibir pantai.

Sesampainya di hotel Purimadha langsung deh kita berganti pakaian dan mempersiapkan dive gear. Sedikit mendengarkan instruksi dari Sammy untuk penyelaman kali ini selanjutnya langsung lanjut nyelem dilaut. Semua dive gear sudah terpasang dipantai dan kita mulai berenang disurface untuk mencapai kedalaman yang diinginkan. Awal penyelaman diarea ini disambut batu koral yang terhampar dengan beberapa ikan kecil disela-sela batuan tersebut. Setelah itu mulai terdapat pasir dengan topografi dalam laut berupa slope dan tidak berapa lama mulai terlihat bangkai kapal yang sudah teronggok selama hampir 70 tahun. 


Dikedalaman sekitar 15 meter gw sempet kagum dengan banyaknya garden eels yang muncul secara malu-malu dan langsung bersembunyi saat didekati. Untungnya visibility lagi bagus-bagusnya yah kira2 bisa sampe 20 meter lah jadi pas gw lihat lihat diatas bisa dilihat kawanan Jack fish yang berputar mengelilingi ship wreck tersebut.  bangkai kapal berada dikedalaman 10 – 28 meter yang terbujur kaku dan sudah terpecah belah. Dibawah buritan kapal gw menemukan dua pasang Lyon fish dan beberapa Parrot fish dan Clown fish yang mendekam di anemone mencari perlindungan.

Penyelaman kami lanjutkan untuk masuk kedalam bangkai kapal. Karena usianya yang sudah lama maka banyak bagian kapal yang sudah sangat rusak dan hancur, tetapi hal ini menjadikan dive spot ini menjadi tempat berkumpulnya ikan dan menjadi media pertumbuhan karang laut. Didalam bangkai kapal tersebut gw bisa menemukan beberapa kepiting dan mantis shrimp yang bersembunyi disela-sela lempengan bangkai kapal.  

Di belakang buritan kapal ada satu ikan Baracuda yang katanya penunggu dive spot ini, banyak orang yang nyelam mengambil foto ikan tersebut, termasuk gw yg ga mo kalah, Cuma gara-gara liat giginya, jadi serem kalo mo foto deket-deket. Udara ditabung pun mulai menipis, sebelum ngos-ngosan gara-gara keabisan udara, kita pun langsung ke safety stop area untuk beradaptasi sebentar dengan tekanan air laut, dan setelah itu langsung naik kepantai kembali.


Satu hal yg bikin saya agak-agak tercengang disini porter disini ibu-ibu strong yang bisa ngangkut tabung dua sampe tiga tabung ditambah alat-alat diving lainnya dalam satu kali angkut. Memang perekonomian didaerah ini sangat bergantung pada tamasya laut dan hampir semua warga di daerah ini berpartisipasi mengembangkan wisata laut didaerah ini menjadi lebih baik, dari hasil pembicaraan gw dengan orang-orang sekitar, di Tulamben, tepatnya di dive spot ini, udah ga boleh lagi ada nelayan yang mancing atau menjaring ikan, jadi didaerah ini udah dijadiin area konservasi.

Seandainya dulu jepang ga perang sama amrik dan kapal selam jepang ga menorpedo kapal ini dan kapal tersebut tidak tenggelam ditempat ini, mungkin Tulamben ga seterkenal saat ini. Walaupun perang merupakan ulah manusia yang merusak bumi tercinta ini, tapi alam punya cara lain bagaimana mengubah sisa perang menjadi suatu yang bermanfaat bagi mahluk hidup lain dan juga manusia itu sendiri. Maka sudah selayaknya kita menjaga alam ini demi kemaslahatan bersama..

Make love not war.. xoxo

Dive With Shark


 
Gili Tepekong; Bali Timur / 10 Februari 2010

Bali memang surga dunia, alasan itulah yang selalu membuat saya selalu rela menghabiskan seluruh cuti saya dari pekerjaan yang melelahkan ditengah keriuhan ibukota. perjalanan kali ini membawa saya ketempat dimana para hiu liar dengan mudah ditemukan pada satu tempat.

Bertempat di Gili Tepekong sebelah timur bali, bersebelahan dengan dive spot yang juga sama terkenalnya yaitu Padangbay. Guide menyelam saya Sammy yang juga merupakan dive instructor mengajak saya ketempat ini, ketempat yang baru pertama kali saya selami. Selain Sammy, ada satu orang yang juga ikut dalam trip kali ini, Marlyn, wisman dari afrika selatan yang sudah menghabiskan satu minggu dive di Bali.

Perjalanan dimulai dari hotel tempat saya menginap di daerah Legian. Paket trip yang ditawarkan sekaligus akomodasi dari hotel ke dive point dan kembali lagi ke hotel sehingga kita tidak perlu susah2 memikirkan akomodasi tapi dengan perjanjian diawal bahwa saya harus stand by jam 7.30 pagi untuk dijemput. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam dari Legian ke Amuk Bay dengan melalui jalan arteri Bali timur melewati pelabuhan Padang Bay.

Sesampainya disana sekitar pukul 9.00 kami langsung mempersiapkan segala dive gear dan guide kami mulai menaikkan tabung yang sudah terpasang BCD ke jukung (perahu kayu tradisional Bali yang biasa digunakan nelayan local untuk memancing ikan) yang sudah stand by dipantai Amuk Bay. Perjalanan dilanjutkan dengan jukung yang bermesin motor tempel sekitar 20 menit untuk sampai di dive spot pertama persis disamping pulau Tepekong.

Dengan kedalaman sekitar 20 – 25 meter dan visibility sampai 15 meter kami pun mulai berkeliling dibawah laut, di spot ini saya banyak sekali menemukan keanekaragaman ikan, dengan tipe karang hard coral reef dan landscape yang landai menjadi tempat berkumpul ikan2.

Tidak hanya kelompok saya saja yang menyelam ditempat ini, ada 1 kelompok selam lagi yang terdiri dari kira2 6 orang yang juga menyelam ditempat ini. kira2 20 menit berlalu sudah mulai tampak beberapa hiu berkeliaran mengeksplorasi tempat ini. Hiu2 tersebut acap kali selalu menghindari para penyelam dan terkesan takut apabila ada penyelam yang mendekati.
 

Beberapa menit kemudian guide saya menunjukan suatu karang cave reef dan ternyata disitulah para hiu tersebut berkumpul. Ada sekitar 7 hiu yang berkumpul digua karang ini saling berdempet-dempetan layaknya penumpang busway di Jakarta. Disekitaran karang tersebut juga terdapat beberapa ikan pari yang mungkin sedang mencari makan atau beristirahat.



Setelah kira2 45 menit kami pun mulai naik ke area safety stop yang berada dikedalaman 3 meter dari permukaan laut, dan menunggu kurang lebih 3 menit untuk naik ke surface dan beristirahat dijukung menunggu surface interval berakhir.

Sambil menunggu surface interval kami pun melanjutkan perjalanan dengan jukung menuju ke tempat dive kedua. Pada dive kedua ini saya diajak ke dive spot Bloo Lagoon bertempat dipinggiran tebing2 Amuk Bay. Kedalaman laut yang kami selami sekitar 15 sampai 20 meter dengan tipe karang soft coral dan sedikit hard coral. tipe permukaannya yang juga landai membuat banyak ikan2 kecil banyak hidup disini.


Ditempat ini lebih didominasi oleh soft coral yang menjadi tempat tinggal dan tempat berlindung ikan-ikan kecil dari dari para predator disekitarnya. Penyelaman kedua dilakukan hampir 55 menit dengan safety stop dikedalaman 3 meter selama 3 menit.


selanjutnya kami naik ke jukung dan kembali kedaratan untuk makan siang yang juga telah disiapkan oleh restoran setempat yang juga merupakan bagian dari paket trip ini dan setelah itu kami kembali kehotel.